Sri Mulyani : RI Bisa Bebas Hutang Jika... - Anti Isu

Breaking

Saturday, September 1, 2018

Sri Mulyani : RI Bisa Bebas Hutang Jika...

Sri Mulyani : RI Bisa Bebas Hutang Jika...


Sampai dengan saat ini masyarakat banyak yang bertanya apakah utang Indonesia dapat dilunasi? Kemudian apakah kita dapat berhenti untuk melakukan pinjaman?

Menteri Keuangan, Sri Mulyani menjelaskan saat ini Indonesia masih menganut kebijakan ekspansif. Artinya belanja atau pengeluaran lebih besar daripada penerimaan negara. Hal itu berdampak pada defisit fiskal yang harus dibiayai dari hutang.

Kemudian, Sri Muluani juga mengatakan Indonesia memiliki bahkan mampu untuk berhenti hutang. Ada syarat yang harus dipenuhi jika negara ini tidak lagi mengandalkan utang untuk menggerakkan ekonomi Indonesia.

Sebagai negara yang terus melakukan pembangunan, kata Sri Mulyani Indonesia membutuhkan anggaran belanja infrastruktur yang tinggi. “Dan untuk membangun, penerimaan itu tidak datang dari langit,” tambah dia.

Sekarang ini, Sri Mulyani melanjutkan pemerintah terus berupaya memperbaiki rasio pajak (tax ratio) untuk meningkatkan pendapatan. Tax ratio sebagai indikator jumlah pembayar pajak masih tergolong rendah dikisaran 11 persen. Ini berarti masih besar peluang untuk meningkatkan penerimaan pajak.
“Jadi, jangan lupa bayar pajak ya,” pinta Sri Mulyani.

Direktur Strategi dan Portofolio Utang Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Schneider Siahaan usai menggelar pertemuan dengan analis dan ekonom menilai, bebas dari utang bukanlah hal yang mustahil bagi Indonesia.
"Kita bebas dari utang? Bisa saja lah," ujarnya di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (12/1/2017).

Akan tetapi, menurut Schneider, ada syarat supaya Indonesia terbebas dari utang, bahkan tidak berutang lagi kepada negara lain maupun lembaga-lembaga internasional. Salah satunya meningkatkan pendapatan per kapita.

"Kita tidak usah ngutang lagi kalau pendapatan per kapita kita sudah tinggi. Misalnya di atas US$ 10 ribu selevel China, atau US$ 30 ribu kayak Eropa. Sekarang kan pendapatan per kapita kita baru US$ 3.000 atau sekitar Rp 40 juta per tahun atau rata-rata Rp 3 jutaan per bulan," jelas dia.

Lebih jauh Schneider menilai, utang bukan merupakan tujuan, namun instrumen untuk mencapai tujuan bernegara mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera.

"Utang itu kan instrumen bukan tujuan. Pertanyaannya, kita lebih senang mana punya utang yang bisa dibayar dan utang bisa menghasilkan penghasilan yang layak, daripada kita tidak punya utang tapi hidup pas-pasan. Jadi asal utang produktif, bisa bayar utang, kan tenang-tenang saja," dia memaparkan.

No comments:

Post a Comment

Pages