Jokowi: Mari Kita Berpolitik Santun & Ber Etika - Anti Isu

Breaking

Monday, January 28, 2019

Jokowi: Mari Kita Berpolitik Santun & Ber Etika

Jokowi: Mari Kita Berpolitik Santun & Beretika
Indonesia, di mata dunia internasional begitu terkenal karena masyarakatnya yang sopan santun, ramah dan baik budi pekertinya. Terkait hal itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak semua elemen bangsa untuk berpolitik santun dan beretika.

"Marilah kita berpolitik yang santun, mari kita berpolitik yang beretika, mari kita berpolitik dengan tata krama yang baik," katanya saat acara pembagian sertifikat tanah untuk rakyat di Lapangan Bola Arcici Rawasari, Kecamatan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Sabtu (26/1/2019).

Masyarakat Indonesia, dia menambahkan, memiliki sopan satun dan tata krama yang baik, sehingga harus diimbangi cara berpolitik yang baik pula. Jokowi mengatakan, masuk dalam tahun politik banyak sekali kabar bohong (hoaks) dan ujaran kebencian terjadi di mana-mana.

Bahkan, dia mengaku, juga menjadi sasaran hoaks yang menyatakan dirinya PKI dan juga memusuhi para ulama. "Masak saya dikatakan PKI. Peristiwa PKI itu terjadi pada 1965 dan saya lahir 1961. Masa ada PKI balita," ujarnya.

Jokowi juga mengungkap di media sosial yang menaruh fotonya disandingkan dengan DN Aidit yang pidato pada 1955. "Masa saya belum lahir sudah ada fotonya dengan Aidit. Oleh karena itu saya harus ngomong, harus meluruskan," katanya.

Dia juga disebut memusuhi para ulama, namun faktanya berbeda. Jokowi setiap minggu bersilaturahmi dengan para pemuka agama.

"Saya tiap minggu bersilaturahmi dengan ulama. Bahkan Hari Santri itu saya yang tanda tangan Kepresnya. Kok gitu disebut memusuhi ulama," ujarnya.

Jokowi juga menyebut survei yang menyebutkan 9 juta penduduk mempercayai bahwa dirinya itu PKI dan musuh ulama. "Untuk itu saya ngomong, kalau tidak bisa 12 ribu orang percaya kabar bohong itu," katanya.

Untuk itu, Jokowi juga meminta untuk tidak percaya dengan kabar bohong dan menjauhi ujaran kebencian karena bisa membuat perpecahan di masyarakat.

"Jangan sampai beda pilihan karena Pilkada, pilihan Bupati, pilihan wali kota, pilihan gubernur dan pilihan presiden membuat antartetangga, antarkampung tidak akur. Jangan korbankan itu," harapnya.

Beda pilihan, menurut dia, merupakan hal yang biasa. Mengingat, pemilu hanya berlangsung lima tahun sekali, sehingga jangan sampai mengorbankan persatuan dan persaudaraan.

Jokowi berpesan jika memilih calon itu dilihat pengalaman memimpinnya, program yang yang ditawarkan. "Namun jika ada tetangga yang beda pilihan jangan dimusuhi," kata Jokowi.

No comments:

Post a Comment

Pages