Meningkatkan Surplus Melalui Kerja Sama dengan Jepang - Anti Isu

Breaking

Tuesday, February 12, 2019

Meningkatkan Surplus Melalui Kerja Sama dengan Jepang



Peninjauan menyeluruh perjanjian kerjasama ekonomi Indonesia-Jepang (IJEPA) ditargetkan rampung sebelum pertemuan G20 yang berlangsung di Osaka, Jepang pada Juni tahun ini. Dengan perjanjian ini diharapkan mampu meningkatkan kembali surplus perdagangan Indonesia dengan Negeri Sakura tersebut.

Duta Besar Indonesia untuk Jepang dan Federasi Mikronesia, Arifin Tasrif mengatakan, perjanjian IJEPA telah berlangsung sejak 2008. Namun kemudian perjanjian kerjasama tersebut ditinjau kembali sejak 2014.

"Peningkatan ekspor sedang kita upayakan di IJEPA. Ini sudah dari 2008. Masih ada beberapa item yang masih alot (perundingan peninjuan menyeluruh)," ujar dia di Osaka, Jepang, Minggu (3/2/2019).

Namun demikian, kesepakatan terkait peninjauan kerjasama dagang ini diharapkan bisa rampung sebelum pertemuan G20 pada Juni mendatang. Dengan demikian, Indonesia bisa lebih mendapatkan kelonggaran untuk melakukan ekspor ke Negeri Sakura tersebut.

"Dengan Jepang harap bisa selesai di 2019, jelang G20. Nanti kepala negara (anggota G20) meeting, sebelum itu kita harapkan disepakati," kata dia.

Dengan IJEPA ini, lanjut Arifin, diharapkan ekspor Indonesia bisa terus meningkat. Sebab, banyak negara lain yang telah melakukan perjanjian serupa dengan Jepang mengalami peningkatan ekspor yang besar.

"Ini Jepang dengan negara lain sudah banyak yang kesepakatan, ada keringanan pajak. Kalau itu bisa disepakati lebih banyak komoditas Indonesia di sektor agrikultur, perikanan bisa banyak masuk ke sini (Jepang)," ungkap dia.

Selain itu, dengan IJEPA diharapkan suplus perdagangan Indonesia terhadap Jepang juga kembali meningkat. Saat ini, perdagangan Indonesia masih surplus USD 2 juta atas Jepang.

"Indonesia selalu suplus. Tahun lalu turun karena commodity price, tapi tahun lalu wakeup lagi. (Dengan IJEPA suplus bisa naik) Bisa," tandas dia.

No comments:

Post a Comment

Pages